Loading...

Sabtu, 06 November 2010

Adat ni batak


  • Orang Batak selain memakan beras, juga memakan umbi2an antara lain SUHAT. Jika terjadi suatu transaksi SUHAT, maka Halak Hita memasukkan SUHAT itu ke dalam karung yg disebut HIRANG. Ada juga wadah lain, seperti AMPANG (suhi ni ampang na opat), tandok, kemudian berkembang memiliki SOLUP yg berisi lk 2,5 liter, takkar (biasanya kaleng susu cap Nona), belek (spt kaleng minyak segi empat) dll. Kata benda "Suhat", berubah menjadi kata kerja, dgn menambah akhiran " i", menjadi "Suhati", "manuhati". Hasilnya dalam satuan VOLUME, disebut HIRANG. Kata kerja manuhati boras, eme, minyak digunakan ukuran SOLUP,takkar atau belek. Ada konversi 1 Ampang lk 10 solup (persisnya sy lupa). Molo angka Inanta tu ulaon adat, manghutti tandok, maka tandok pribadi biasanya di isi lk 2 SOLUP. Sedangkan tandok Utama (tandok ODORAN) biasanya bisa di isi sd 4 - 5 Solup. Satu waktu sempat di Tarutung, uang kost pelajar digunakan sejumlah belek beras/bulan.

    Di Onan (Pasar) - berbagai Jenis dan Ragam SOLUP di temukan. Semua SOLUP sah sebagai alat ukur, menurut ONAN dimana transaksi terjadi.
    Ada Solup yg diganjel bagian bawahnya, ada yg di ketok dasarnya agar cembung ke dalam, ada yg di 'penyet-kan', dll dgn taktik2 tipu, agar volumenya berkurang.

    Jika par Toba datang ke Onan Tarutung, maka yg berlaku adalah SOLUP pedagang2 di Tarutung, dan demikian pula lah sebaliknya. SIDAPOT SOLUP do NARO. Selanjutnya berlaku Hukum yg sama ke Humbang, Samosir hingga seluruh pelosok Tapanuli. Norma, Hukum, Tatanan yg berlaku di satu tempat, berlaku bagi pendatang. Jangan pendatang yang membawa Hukum, Sistem, Tatanan dan memberlakukannya di daerah yg di datangi. Ini sesuai dengan pepatah Batak "DI SI Tano ni dege, ba di si ma langit ni junjung". Similitary dari hukum dagang itulah yang di bawa atau di persepsikan ke pelaksanaan ADAT terutama perkawinan.

    Namun masyarakat Batak itu sangat toleran. Mereka juga menghormati tamunya yang datang, sehingga memberikan kelonggaran dalam musyawarah mufakat para Raja. Ini kita kenal dgn istilah mar TONGGO RAJA atau mar-Ria Raja. Hasil kemufakatan para Raja dalam satu forum TONGGO RAJA atau RIA RAJA adalah forum yang tertinggi dalam masyarakat Batak, yaitu DALIHAN NA TOLU, PAOPAT SIHAL2.

    Apakah itu SIHAL2 ?
    Kita semua tentu sudah paham dan mengerti dalihan na tolu. Yaitu Dongan Tubu, HUla2 dohot Boru. Kadang kala stabilitas ketiga dalihan yg tiga itu, untuk memikul Balanga/Hudon yg diletakkan - agak rawan, karena tiga dalihan tidak sama tingginya. Nah disinilah datang SIHAL2 untuk menyeimbangkan antara tinggi rendahnya antar dalihan (batu tungku).
    Sihal2 ini biasanya mereka yang disebut "Dongan Sahuta". Bagi halak hita, DONGAN SAHUTA ini merupakan "SOUL MATE". Ada pepatah "Jonok di partubu, jumonok an do di parhundul".

    Tatanan adat batak , yang kita kenal sebagai Dalihan na Tolu, pada hakekatnya adalah "RUHUT PARSAORAN di Halak Batak" yang merupakan Tean-teanan yang tak ternilai harganya, yang berisi aturan laho manogu-nogu bangso Batak tu HA-RENTA-ON dohot HA-DEMAK-ON (Law and Order) di angka parsaoran nasida. Panogu-noguon on (tuntunan/arahan) harus dalam HOLONG na sian TUHANTA Jesus Kristus, menerus di sedikitnya 3 zaman atau era atau periode, yaitu pelaksanaan paradaton pada zaman orang Batak itu masih masyarakat agrikultur (songon di hitaan), kemudian masyarakat Batak itu mengalami masa INDUSTRIALIS, dan sekarang melangkah tegap ke era INFORMATIKA, dimana ruang dan waktu tidak lagi menjadi pembatas hidup mereka. Kalau dahulu masyarakat Batak itu tidak berinteraksi dengan tatanan masyarakat lain, maka sekarang kondisi dan maasyarakat lain membayangi mereka. Misalnya : Terbatasnya lahan kuburan di Bali, Mahalnya sewa gedung pertemuan di Jkt.
  • Marhusip merupakan salah satu aktivitas yang penting dalam rangka perencanaan pelaksanaan adat pernikahan dalam Suku Batak. Arti harfiah dari MARHUSIP dalam bahasa batak adalah berbisik. Aku tidak tahu persis kenapa kata MARHUSIP digunakan dalam kegiatan ini, sebab pada hakekatnya dalam setiap pembicaraan dalam acara ini bukanlah berbisik bisik melainkan berbicara normal seperti sediakala dan terkadang diselingi canda dan tawa. Dari pengalaman mengikuti acara acara yang seperti ini dapat disimpulkan bahwa istilah MARHUSIP digunakan mengingat kegiatan ini belumlah disaksikan secara terbuka oleh masyarakat umum (sanak keluarga dan kerabat secara keseluruhan) namun terbatas hanya sanak keluarga dekat dan sifatnya memformalkan apa yang dibicarakan dalam Marhori DInding.

    Marhusip ini baru saja aku hadiri pada hari Sabtu, 5 Desember 2009 yang lalu, dimana kami, sebagai pihak PARANAK, mengantar anak kami Coky Gihon Jansen Silalahi, anak dari abang suamiku, Ap Coky Silalahi, ke rumah keluarga PARBORU, calon anak menantu kami, boru Simanjuntak, di Jalan Kenanga, Menceng, Cengkareng. Yang hadir dari pihak kami PARANAK adalah bapak dan inang tua dari calon pengantin pria, bapak dan inang udanya, amang dan inang boru nya dan juga ada opung boru nya dari Pengadegan.

    Acara yang semula direncanakan pukul 12.00 ternyata mundur menjadi 13.30 karena ada salah komunikasi. Namun ndak masalah, walaupun perut lapar, kami sudah disuguhi lappet ombus-ombus dan air minum. Lumayan, buat yang sudah menahan lapar sejak tadi karena ada yang belum sempat sarapan dan terlambat makan siang.

    Dalam acara ini pihak PARANAK datang secara resmi bersama saudara dekat menemui pihak keluarga PARBORU dengan membawa SIPANGANON (makanan dan minuman) dan tentunya kedatangan ini telah disepakati dalam acara marhori dinding, sehingga pihak PARBORUpun telah mengundang sanak saudara dekat untuk menerima kedatangan pihak PARANAK, dan masing masing pihakpun telah didampingi RAJA PARHATA. Boleh dikatakan bahwa kedatangan pihak PARANAK kali ini adalah meminang secara resmi anak perempuan dari PARBORU dan telah melibatkan para pihak yang berkepentingan.

    Sesampai didalam rumah PARBORU, pihak PARANAK-pun menyampaikan bahwa mereka datang dengan membawa SIPANGANON (makanan dan minuman). Kemudian pihak PARBORU menyuruh PARBORUON-nya (garis perempuan dalam keluarga) untuk MANIGAT (pengertian Indonesianya membuka pembungkus disertai merapikan) makanan dan minuman dimaksud, lalu kemudian mempersiapkan hidangan untuk dimakan para hadirin yang telah duduk berhadapan. Setelah makanan terhidang, pihak PARANAK pun PASAHATHON (mempersembahkan) TUDUTUDU SIPANGANON (biasanya ini adalah kepala seekor PINAHAN LOBU atau babi yang telah diatur sedemikian rupa), yang disertai dengan sepatah kata dan UMPASA. Kemudian pihak PARBORU membalasnya dengan menyajikan DEKKE (ikan) yang juga disertai dengan sepatah kata dan UMPASA.

    Pihak PARBORU selaku tuan rumah meminta agar yang membawakan doa makan adalah dari pihak PARANAK sebab merekalah yang membawa SIPANGANON tersebut. Doapun dipanjatkan kepada Tuhan lalu kemudian semua yang hadir makan bersama sama.

    Setelah selesai makan, RAJA PARHATA dari PARBORU memulai pembicaraan, dan menanyakan maksud dan makna dari TUDU TUDU SIPANGANON yang disampaikan oleh pihak PARANAK. Lalu RAJA PARHATA pihak PARANAK menjawab bahwa TUDU TUDU SIPANGANON tersebut adalah merupakan SURUNG SURUNG (dalam bahasa batak surung surung merupakan JAMBAR atau hak RAJA yang tidak perlu dibagikan pada saat acara tersebut) bagi pihak PARBORU.

    Kemudian RAJA PARHATA dari PARBORU memberitahukan kepada HAHA ANGGI (saudara tua dan saudara muda)-nya serta DONGAN SAHUTA (tetua atau orang yang dihormati disekitar tempat tinggal) tentang yang disampaikan oleh PARANAK tersebut, disertai permintaan agar acarapun ditutup.

    Namun biasanya pihak PARANAK pada kesempatan itu memohon kepada pihak PARBORU agar saat MARHUSIP ini dapat juga dimanfaatkan sebagai acara PATUA HATA (konfirmasi atau penegasan apa yang dibicarakan dalam MARHORI DINDING). Lalu berdasarkan pertimbangan dari HAHA ANGGI dan DONGAN SAHUTA, permohonan tersebut dikabulkan.

    PATUA HATA

    Patua hata merupakan dialog antara PARBORU dan PARANAK yang dirangkai oleh RAJA PARHATA. Inti dari dialog serta pembicaraan disini merupakan penegasan kembali dari apa yang sudah dibicarakan dalam MARHORI DINDING; hanya bedanya disini lebih formal dan disaksikan para undangan dan RAJA yang diundang oleh kedua belah pihak.

    Acara ini diakhiri dengan memperkenalkan calon pengantin laki laki dan perempuan kepada seluruh yang hadir dalam acara tersebut, kemudian disusul dengan penyerahan INGOT-INGOT (semacam ikrar dalam bentuk uang kecil) oleh pihak PARANAK kepada pihak PARBORU (biasanya INGOT INGOT ini dibagikan kepada seluruh pihak PARBORU yang hadir saat itu). Lalu akhirnya ditutup dengan nyanyian gereja dan doa penutup dari pihak PARBORU.

    Patua hata, artinya bahwa kesepakatan seorang pria dengan seorang wanita yang telah sepakat untuk memadu kasih, menjadi tanggung jawab orang tua. Patua hata, bahwa sudah menjadi pembahasan pihak orang tua pria dan wanita, biasanya sudah sekaligus menentukan langkah-langkah selanjutnya sampai ke acara Pemberkatan Nikah, Pesta Adat dan resepsi. Diawali dari namartumpol. Pemberkatan Nikah, rencananya akan diadakan pada tanggal 27 Maret 2010, semoga keluarga, calon mempelai, orangtua diberi kesehatan, supaya niat baik ini boleh terjadi dan seturut dengan kehendak Tuhan. Amin

  • By.Dussel

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar